Bahtera Hikmah

sanuriihim aayaatinaa fii al-aafaaqi wafii anfusihim hattaa yatabayyana lahum annahu alhaqqu awa lam yakfi birabbika annahu 'alaa kulli syay-in syahiidun

" Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Alquran adalah benar dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu " (QS. Fushshilat:53)
Tampilkan postingan dengan label universitas kehidupan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label universitas kehidupan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 21 Desember 2010

Menata Hati dari Bayangan Masa Lalu

expr:id='"post-" + data:post.id'>

" pribadi yang bertanggung jawab pada hidupnya, tak akan pernah berpegang pada akar rapuh kenangan masa lalu, tetapi ia akan segera meraih dahan kokoh hari ini untuk menggapai buah manis masa depan "
itulah update FB saya beberapa waktu yang lalu, ada satu komentar yang sangat baik dari ukhti Uchi yang menanyakan " terus bagaimana dengan masa lalu yang selalu membanyangi diri..sehingga menimbulkan rasa takut dan ragu yang selalu mengiringi langkah untuk meraih masa depan..?
setiap pribadi pasti punya masa lalu baik yang membawa pada kebahagiaan maupun kekecewaan dan tidak jarang malah bayangan-bayangan buruk masa lalu yang malah sering terekam di dalam pikiran dan memori bawah sadar kita, sehingga bayangan-bayangan masa lalu tersebut menjadi semacam Phobia yang terus-menerus mengiringi sepanjang hidup kita, memang kita tidak akan dapat menghapus bayangan-bayangan itu, tapi ibarat seperti bayangan yang sesungguhnya ia muncul ketika ada sisi gelap yang tercipta akibat tertutupnya pancaran sinar cahaya di sisi terangnya. yang dapat kita lakukan adalah memperbesar cahaya di sekitar tempat kita berada tadi dengan itu bayangan akan dengan sendirinya memudar, tapi ingat bayangan tadi tidak benar-benar hilang hanya memudar.
kita sebagai manusia telah dibekali oleh Allah menuruh fitrahnya yaitu Hati sebagai cermin pribadi kita hati mampu memancarkan cahaya kebaikan, namun dapat pula redup oleh perasaan-perasaan yang tidak membaikan kita, dan sekali lagi Ikhlas adalah bahan bakarnya , ketika kita mengisi hati kita dengan perasaan marah, dendam, penyesalan itulah yang menjadikan sinar hati kita semakin redup, oleh karenanya sudah saatnya hari ini kita meneta hati dengan berpikir positif untuk mengembalikan sinarnya kembali.
namun seringkali kita mendapat pertanyaan dalam diri kita sendiri, " saya rasa mudah untuk sekedar mengucapkanya namun ketika mesti saya lakukan selalu saja muncul kesulitan, tetapi ketika saya semakin berpikir positif untuk meredam bayangan itu tetapi bayangan itu malah semakin dekat dan menghantui saya...?"
karena penataan hati positif adalah suatu perbuatan yang abstrak dan seringkali kita malah dihadapkan pada sisi negatif kita, sama halnya saat kita berpikir positif kita secara tidak sadar "memusuhi, membenci, dan tidak menyukai" bagian dari diri kita sendiri (yang negatif) karena itu manusiawi, seperti hukum alam dan pepatah kuno " apa yang kita benci akan cenderung membesar dan apa yang kita tekan akan menekan balik " hal ini juga berlaku pada pikiran kita, bagian negatif diri kita akan semakin terlihat dan bukannya hendak memudarkan bayangan itu tapi malah semakin tidak menghargai diri kita.
yang dapat kita lakukan adalah menjadikan pikiran positif yang dirasa enak di hati adalah berarti positif, dan pikiran positif yang rasanya tidak enak adalah negatif.
misalnya kita punya bayangan tidak enak tentang buruknya hubungan pertemanan anda di masa lalu. dalam pikiran kita :
" saya punya masalah hubungan pertemanan "
" saya tidak tahu harus berbuat apa "
setelah itu kita menulis beberapa kalimat yang benar-benar menggambarkan perasaan kita, buatlah pernyataan ini dalam hati.
" saya akan mencari pikiran tentang hal ini yang rasanya enak "
lalu tuliskan berbagai pikiran yang muncul dan perasaan hati anda yang rasanya menjadi lebih baik, sama, atau lebih parah.
misal:
" saya tidak pernah punya cukup teman "(sama)
" saya ingin punya banyak teman " (sama)
" seharusnya saya lebih banyak berhubungan sosial "(sama)
" seharusnya saya tidak berteman dengan mereka " (lebih parah)
" tapi hari ini saya masih punya teman-teman yang setia dan baik pada saya " (lebih baik)
" pengalaman ini menjadikan saya lebih bisa mengerti orang lain " (lebih baik)
" hari ini sahabat-sahabat dan saudara-saudara saya telah mengulurkan tangan mereka membantu masalah saya " (lebih baik)
" setiap saya punya teman pasti ada sisi baik dan buruknya "(sama)
" teman seharusnya dapat kita manfaatkan " (lebih parah)
" untung saya tidak terperosok lebih jauh " (lebih baik)
" saya belajar memaafkan dan memahami kekurangan teman saya " (lebih baik)
" itu telah berlalu dan bukan hari ini " (sama)
" dulu saya juga pernah mengalaminya seperti ini dan saya mampu melewatinya" (lebih baik)
" seandainya teman saya sedikit namun baik pada saya mungkin saya jadi lebih mengerti tentang diri saya sendiri/intrapersonal " (lebih baik)
" saya lebih beruntung dari mereka yang lebih banyak musuh " (lebih baik)
kita dapat lihat di sini kita tidak berlatih memaksakkan diri untuk berpikir positif dan menghapus masalah itu kita juga tidak menilai pikiran kita itu positif atau negatif yang kita cari adalah perasaan dibalik pikiran-pikiran itu, sehingga kita bisa mengenali pikiran mana yang sebaiknya saya "pelihara" agar perasaan selalu "enak" di dealam keikhlasan hati.
memang semua kejadian yang telah terjadi tidak dapat dirubah, tetapi pikiran kita tentang ketidakmampuan kita membina hubungan baik telah mendominasi perasaan sebelumnya, sehingga perasaan itulah yang menarik semua masalah dan perasaan kecewa kita. ubahlah perasaan itu maka kondisi-kondisi pun akan ikut berubah. dan tidak perlu takut menghadapi masa akan datang yang dibayangi masa-masa lalu.
" lebih baik kita menaruh perhatian kita pada masa depan, karena kita akan menghabiskan lebih banyak wakru disana "
Allahu a'lam bishowab
Referensi:1. Quantum Ikhlas : Erbe Sentanu
2. Habit : Michell Suharli

[+/-] Selengkapnya...

Sabtu, 18 Desember 2010

ESQ (Emotional Spiritual Quotient)

expr:id='"post-" + data:post.id'>

pernahkah anda berjalan di tepi pantai, ketika angin laut menerpa wajah kita bersama deburan suara ombak menghantam batuan karang di depan kita, saat itu kita berpikir air laut ini berasa asin karena terlarutnya berbagai mineral dari aliran sungai-sungai yang menuju laut ini. otak kita memikirkan apa yang pernah kita pelajari sebelumnya adalah bagian kecerdasan intelektual (IQ), lalu perasaan kita merasa damai dan tenang, muncul rasa mencintai alam sekitar (EQ) bersama itu juga pikiran kita merasa kagum atas segala penciptaan-Nya, mencoba memaknai rahasia kehidupan ini (SQ)dan kenyataan tidak pernah ada seorang manusia pun yang hanya menggunakan salah satu kecerdasan itu (intelegent, emotion, spiritual)namun melebur dalam suatu harmoni (keselarasan)dan memegang prinsip keseimbangan ketika seorang pribadi hanya menggunakan IQ-nya dia akan seperti sebuah robot hidup saja, jiwa terasa kering namun ketika pribadi hanya berpegang pada EQ-nya dia juga akan jadi sekedar budak dunia, seperti yang terjadi pada dunia barat akhir-akhir ini ketika jiwa mereka merasa ada yang kering dan berduyun-duyun mereka mempelajari ilmu-ilmu spiritual di dunia timur. saat pencarian makna hidup telah lama ditinggalkan dunia barat yang terperosok dalam lumpur materialisme.namun sering kali kita salah memahami apakah yang dimaksud kecerdasan spiritual itu, kita salah mengartikan SQ hanya sebagai ritus ibadah saja (shalat, saum, zakat) namun bukan pengertian ibadah secara lahiriah saja namun lebih jauh dari itu adanya suatu bentuk pemahaman akan maksud dan makna dari ibadah untuk mengembalikan manusia pada fitrahnya.sebagaimana firman Allah "Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada Agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui",
QS. ar-Rum (30) : 30 jika kita gambarkan prinsip ESQ adalah seperti segitiga sama


sisi dimana alasnya terbentuk dari dua sudut IQ dan EQ dengan SQ di puncak sudutnya. ketika manusia mengembalikan dirinya pada fitrahnya, tetapi bagaimana kita dapat mengembalikan fitrah kita itu yaitu dengan kembali memahami ayat-ayat kauliah (alquran hadist)dan ayat-ayat kauniyah (alam semesta ciptaan-Nya)dan sarananya adalah hati. suatu misal ketika kita membuat suatu kesalahan meskipun kita tak tahu ayat-ayat hukumnya dan otak kita mungkin berusaha untuk membenarkanya di saat itulah ada perasaan bersalah yang membisikkan dalam hati kita namun kadang kita sengaja tidak menghiraukannya sehingga lambat laun suara itu semakin tumpul dan sepertinya hati kita semakin tertutup. padahal fitrah manusia diciptakan begitu mulia sebagaimana firman Allah:"Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (QS. al-Isra :70). ternyata semua pengertian SQ berujung pada apa yang dinamakan dengan keimanan dalam sebuah keikhlasan hati menerima fitrah manusia .namun keimanan bukan berasal dari pikiran dan aturan yang diterima dari luar dirinya, akan tetapi iman itu bersal dari potensi jiwanya sendiri (fitrah) "Orang-orang Arab Badui itu berkata, "Kami telah beriman." Katakanlah (kepada mereka), "Kamu belum beriman, tetapi katakanlah, "Kami telah tunduk", karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tiada akan mengurangi sedikit pun (pahala) amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (QS. al Hujurat :14)
referensi :1. "ESQ (
emotional spiritual quoient)" Ari Ginanjar Agustian 2. " Quantum Ikhlas" Erbe Sentanu 3. " Berguru Pada Allah" Abu Sangkan.
postingan selajutnya " Menata Hati ",

[+/-] Selengkapnya...

Selasa, 07 Desember 2010

Berjalanya Waktu

expr:id='"post-" + data:post.id'>

suatu waktu ketika matahari bersinar dengan teriknya di siang itu dari kejahuan terlihat seorang anak denagn sepedanya menyusuri jalan yang naik turun itu, dengan masih memakai seragam merah putih yang biasa dipakai anak SD dengan tas yang masih menggantung di pundaknya. tampak di wajahnya keletihan yang sangat sepulang mendaftar di SMP favoritnya yang mesti ia tempuh berkilo-kilo meter jauhnya karena begitu capeknya ia pun sejenak berhenti di bawah rindangnya pepohonan di pinggir jalan itu, sejenak pikirannya pun melayang mengeluh. betapa lama dan beratnya waktu yang mesti ia jalani, ia harus menjalani 3 tahun di smp sampai lulus, 3 tahun SMA setelah itu kuliah dan mesti berjuang agar mendapat perkerjaan pada instansi pemerintah yang ia impikan selama ini, tak lama rasa kantuk pun hinggap padanya hingga melelapkanya dalam tidur, namun ia pun terkaget ketika tangan telah meraba sesuatu yang telah melingkar pada pergelangan tangannya, benar sebuah jam tangan telah terikat dan ia tak tahu mengapa jam tangan tangan itu bisa sampai di tanganya, sejurus ia perhatikan jam tangan itu, ia coba untuk memutar jarum di dalamnya dan apa yang terjadi, serasa waktu berputar maju ke masa depan ketika ia putar maju dan ia kembalikan ke belakang dan demikian pula waktupun kembali, "wah ini benar-benar jam ajaib" ujarnya dengan wajah gembira sepertinya kelelahan telah musnah di wajahnya, kembali ia putar saat ia lulus SMP, SMA dan tamat Perguruan Tinggi hingga mendapat jabatan penting pada instansi yang selama ini ia harapkan.karena begitu seringnya dan menganggap mudah segala waktu ia putar, ia mendapati dirinya dalam keadaan tua dan menjelang ajal, penyesalan berkecamuk pada pikiranya begitu sempit dan cepatnya waktu berlalu dengan mudahnya, betapa hampa dan hambar hidup yang ia jalani. seketika itu ia meraih jam tangan ajaib itu di balik sakunya dengan menitikan air mata ia putar kembali ke belakang sampai saat ia pertama menemukan jam tangan itu di bawah pohon ini. kali ini ia benar-benar tersadar jam tangan itu telah lenyap dan benar ini hanya sebuah mimpi saja. setelah kejadian itu ia tak lagi mengeluh dan kembali bersemangat dengan hidup yang mesti ia jalani hingga ia benar-benar dapat menyelesaikan semua pendidikanya hingga mampu berkerja di temapat yang ia impikan, ia mendapat pelajaran bahwa biarkan hidup berjalan apa adanya dengan berbagai isinya yang mesti kita jalani, waktu yang ada tidak akan dapat mengubah sesuatu tapi bagaimana kita mengisi di dalam waktu itu yang akan mengubahnya. kita jalani waktu dengan bertawakal pada Allah SWT. kita pun tahu mungkin kita dapat memperoleh uang lebih banyak tetapi tidak untuk waktu yang lebih banyak. bahwa kita sadri di hari-hari yang akan datang ini ada moment-moment tahun baru baik Islam maupun Masehi, sebenarnya kurang tepat rasanya, mengapa mesti menunggu akhir tahun kita harus muhasabah(introspeksi) diri padahal setiap hari mestinya kita lakukan hal itu, yang menjadi kurang tepat lagi ketika kita mesti mengisinya dengan hura-hura dan pesta pora, apakah ini yang kita lakukan ketika umur kita semakin dekat dengan perpisahan hidup dunia. kita pun tidak sampai memandang dari sisi agama apkah perbuatan gembira ria itu mendapat perlakuan hukum seperti apa, kita serahkan pada penilaian masing-masing apakah perilaku tadi lebih membawa manfaat atau tidak bagi diri kita. Allahu A'lam bi showab.

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 01 Desember 2010

Makan dan Minum

expr:id='"post-" + data:post.id'>

" Saat kita makan hampir pasti akan minum, tapi tidak setiap minum kita akan makan..." pernahkah anda makan dan minum di rumah makan atau di warung tegal(kelasnya ane he..he..) misalnya ketika anda selesai memesan makanan kira-kira apa yang akan ditanyakan penjual atau pelayan tersebut.benar..! minumnya apa mas/mbak..? ya kadang-kadang sih memang ada penjual yang sengaja menawarkan supaya minumannya laku tapi terlepas dari semua itu ada niat baik supaya kita tidak kehausan dan makanannya tidak macet (sereten 'jawa')seandainya saat itu kita tidak ada minuman apalagi makanan pedas bisa dibayangkan sendiri.sama pula ketika, ijinkan saya menggambarkan makanan sebagai impian, harapan dan tujuan kita, hingga suatu ketiaka mengalami hambatan karena karena kita lupa membawa minumnya (sikap, cara, belajar) dalam menjalani proses untuk melancarkan makanan kita tadi, tapi yang selalu menjadi masalah kita selalu merasa impian dan tujuan kita itu serasa tidak pernah terwujud karena dia belum terlihat dan masih jadi misteri di depan (tapi tidak setiap minum kita akan makan)dan apakah kita akan selalu memandang donat hanya pada lubangnya bukan pada kue donat keseluruhan. karena semua itu adalah proses ketika sabar dan syukur adalah kuncinya.selalu belajar dari universitas kehidupan lewat fakultas pengalaman sebagaimana telah Allah dalam QS. al Ibrahim 6-7:" dan (ingatlah) ketika Musa berkata pada kaumnya : ingatlah nikmat Allah atasmu ketiaka Dia menyelamatkan kamu dari (fir'aun dan)pengikut-pengikutnya, mereka menyiksa kamu dengan siksa yang pedih mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan membiarkan hidup anak-anak perempuanmu dan pada yang demikian itu ada cobaan yang besar dari Tuhanmu. dan (ingatlah juga)tatkala Tuhanmu memaklumkan : jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat)kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku)sesungguhnya azab-Ku amat pedih." kerena kita tidak hanya berputar pada hal jasmaniah (makan dan minum tadi) tapi juga ada dimensi ruhiah (kenyang dan puas) dan spiritual (bersyukur pada-Nya)dan bentuk syukur kita adalah memanfaatkan segala karunia Allah tadi pada hal-hal yang bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain karena karena segala bentuk syukur tadi bukan untuk Allah tapi akan kembali pada kita sendiri. dan diantara bentuk syukur adalah mau belajar dan memehami arti kehidupan sebagai bekal untuk menghadapi segala rahasia di depan, dan suatu ketika kita akan merasa betapa pentingnya hari ini kita telah mengumpulkan minuman-minuman hidup ini ketika makanan-makanan hidup telah terhidang di depan kita.

[+/-] Selengkapnya...

Jumat, 12 November 2010

Bagai Air

expr:id='"post-" + data:post.id'>

Berada di alam bebas adalah suatu kenikmatan terindah jika kita pernah melakukanya, tapi yakin kebanyakan kita telah merasa betapa besarnya anugerah yang Allah berikan pada kita.satu lagi hikmah dari alam ciptaan Allah adalah " air "air adalah sumber kehidupan merupakan unsur gabungan dalam kimia antara 2 atom hidrogen dan 1 atom oksigen, uniknya adalah ketika kita menemui air dimana akan tersusun dengan susunan kimia tersebut, jika ada susunan yang lain maka ia bukanlah airketika air berwujud cair dapat kita analogikan sebagai manusia kebanyakanya dia dapat terlarut oleh senyawa apa saja namun dia tetaplah air yang jernih yang maberikan kesejukan ketika dia tak tercemar oleh racun kehidupan, bukankah sumber air yang sering diambil akan terus mengeluarkan air yang semakin jernis dan semakin jernih sama pula ketika kita dapat saling berpesan dalam kebaikan dan kesabaran akan menjadikan hati kita sejuk, sesejuk embun di pagi hari.
suatu ketika air akan berubah wujud menjadi gas inilah analogi tertingginya bahwa kita mampu menempatkan waktu kita di sela-sela kesibukan, biarkan pikiran kita terbang seringan-ringannya bagaikan gas menuju langit tertinggi lewat ibadah dan tafakur kita, maka suatu ketika kita sebagi air telah sampai pada langit ke tujuh tak ada yang lebih kuasa di alam ini selain Allah SWT.namun adalah sangat disayangkan ketika kita telah masuk ke dalam fase padat hati kita akan semakin dingin..semakin dingin dan dingin, dingin hati orang yang tak ingin tahu apa arti hidup ini, untuk apa hidup ini dan siapa aku ini, seperti hati orang-orang kafir yang tertutup.....

[+/-] Selengkapnya...

Rabu, 10 November 2010

Keyakinan

expr:id='"post-" + data:post.id'>

Alkisah ada seorang anak dari sepasang suami istri. Anggaplah namanya Budi (mohon maaf untuk siapa saja yang bernama budi, ini hanyalah kisah fiktif belaka..kesamaan nama hanyalah kebetulan saja..hehe).Si budi ini lahir dan tumbuh menjadi anak yang sangat menggemaskan. Walau kalau diperhatikan dengan seksama maka banyak orang bertanya-tanya.Pertanyaan apa? Kalau dilihat-lihat bapaknya budi tinggi, kulit kuning langsat, gagah, pokoke dah bak peragawan saja. Ibunya? Wueh cantik, putih, hidung mancung, rambut lurus hitam legam. Serasi bener dengan suaminya.Lah budi? Rambut ikal, hitam, idung pesek, pendek pula.Apalagi kalau tau tipikal wataknya. Ibu dan bapak Budi cenderung sangat teliti, telaten dan sabar. Budi malah benar-benar kebalikannya, suka ceroboh, gk sabaran dan pengen semuanya serba cepat.Saat kecil si budi suka diolok-olok anak pungut. Si budi walau kesel (dan sering kali berantem karenanya) tak terlalu memperdulikannya. Maklum masih kecil sekarang kesel besok sudah tertawa lagi. Tapi saat beranjak dewasa hal ini berbeda, si budi merasa apakah KEYAKINAN dia bahwa selama ini dia adalah ANAK dari KEDUA ORANG TUANYA salah? Apalagi mengingat ciri fisik dan ciri sifat yang sangat berbeda (plus ditambah kompor komentar dari teman, kenalan dan yang lainnya.Maka dimulailah PERJALANAN mencari kebenaran buat si budi. Dia mulai dengan meminta akta kelahirannya kepada kedua orang tuanya dan men-cross check kebenarannya ke RS yang bersangkutan. Akte sah, gak ada yang salah, maka tersenyumlah si budi dan yakinlah dia kalau dia benar-benar anak dari ibu bapaknya.Tapi esok lusa, saat dia bercerita kepada yang lainnya. Eh banyak yang meragukan. Katanya surat keterangan gini doang bisa saja salah, dia harus punya saksi hidup yang menyaksikan kalau dia benar-benar BROJOL dari rahim ibunya..Maka perjalanan dimulai kembali. Bak detektif si budi menelusuri siapakah dokter atau bidan yang membantu proses lahiran dia. Setelah berminggu-minggu dia mencari, didapatilah sang dokter bahkan perawatnya. Setelah proses tanya jawab yang memakan waktu dan pikiran maka yakinlah si budi kalau memang benar dia brojol dari rahim ibunya.Eh lagi-lagi esok lusa saat si budi sedang menonton televisi dia lihat kasus suap. Dengan suap uang bisa saja keterangan seseorang diubah-ubah. Maka kembali sangsilah si budi. Memutuskan untuk mencoba level tertinggi pembuktian anak. TES DNA!Maka menabunglah si budi selama bertahun-tahun. Setelah terkumpul (bahkan saat itu si budi sudah bekerja dan berkeluarga) maka mulailah si budi melakukan tes dna. Setelah mengeluarkan biaya besar dan serangkaian tes melelahkan maka keluarlah hasil tes itu. Ternyata walau fisik dan sifat yang sangat berbeda, kata selembar surat tes dna itu si budi benar-benar ASLI anak ibu bapaknya.Giranglah si budi. Dan tak lagi kepikiran yang aneh-aneh atas keyakinannya walau sering ditanyakan oleh yang lainnya (walau hanya gurauan “bener gk sih lu anak ibu bapak lu?”). Sekian tahun berlalu, ibu bapaknya si budi sudah meninggal, si budi mendapati fakta saat bekerja bahwa bahkan suatu tes dalam beragam pembuktian bisa juga salah. Harus berkali-kali dilakukan barulah bisa dipastikan itu benar adanya.Maka kembali pusinglah si budi. Selembar kertas hasil tes dna itu bisa saja salah bukan? Bisa jadi dia bukan anak ibu bapaknya. Tapi mau ikut tes dna lagi bagaimana pula dia dapat biayanya sampai berkali-kali harus tes DNA. Anak istrinya butuh biaya. Maka mengadulah dia ke makam ibu bapaknya.“Ibu..bapak.. apa benar saya anak kalian?? aku sudah cross check ke RS, sudah cari dokternya, sudah tes dna. Tapi semua itu masih bisa error, bisa saja itu semua salah. Apa benar saya bukan anak ibu dan bapak? Saya harus bagaimana untuk menghilangkan ragu di hati saya” Begitu kira-kira kata si budi (sambil menangis tentunya) dimakam ibu dan bapaknya di suatu pemakaman umum.“yaelah mas, kalau memang hati anda mau meragu maka suatu hal sebenar apapun itu ya pasti salah saja. Yang mas lihat bukanlah benarnya, tapi selalu kemungkinan salah dan errornya. Hidup itu memang ada waktunya untuk mencari tapi ada waktunya juga untuk meyakini. Hati manusia tak akan pernah puas, memilih untuk meragu atau meyakini ya terserah sendiri asal siap resikonya jangan sampai menangis merengek dimakam siang bolong seperti ini”Si budi bingung. Siapa yang bicara? Si budi menyeka mata yang berair dan ingusnya kemudian berpaling kebelakang. Mendapati seorang kakek tua penjaga makam yang kumal, kurus, baju compang camping sedang asyik membersihkan makam dari rumput liar. Si budi bingung, dipikir-pikir benar juga kata suara tadi. Tapi apa mungkin bapak ini yang berkata demikian? Badannya kurus, kucel, tidak terlihat berpendidikan, masa iya bisa berkata sebijak itu.“maaf pak.. bapakkah yang tadi berkata kepada saya?” si budi kembali bertanya.Kali ini bapak tua itu berhenti bergerak, tersenyum sejenak kearah si budi dan berkata“nah mas.. sama seperti hal yang mas dengar tadi.. apakah mas mau yakin bahwa saya lah yang berkata atau mau kembali meragu bukan saya yang berkata? Semuanya terserah mas saja..”sumber. kompasiana.comdari inspiring story di atas kita dapat mengambil hikmah di dalamnya, bukankah keyakinan dan kepercayaan itu adalah sesuatu yang sangat penting dan sangat diharapkan ada di setiap hubungan sosial manusia, pernahkah anda menyaksikan betapa akhir- akhir ini rasanya sering terjadi konflik antar warga, golongan, agama bahkan antar negara sekalipun. lalu apa yang menjadi sebab semua ini. ketidak salingpercayalah merupakan sumbernya dimana setiap oarang saling curiga, saling merasa yang paling benar padahal semua itu adalah relatif.suatu ketika kita dihadapkan pada sebuah kesalahan misalnya dalam pekerjaan tidak sepantansnya kita mencari alasan pembenaran atas kesalahan kita, apalagi mencari kambing hitam (kasihan dari dulu kambing yang disalahin he..he..) sebagai seorang yang bertanggung jawab seharusnya tindakan yang kita adalah berani mengakui kesalahan dan bertekat untuk memperbaiki diri. lalu sebuah kepercayaanlah dari seorang atasan adalah sebagai bahan bakar untuk memotivasi diri dalam memperbaiki diri.sebagai manusia kita tidak terlepas dari kesalahan dan ketidakmampuan, apalagi anda yang masih tergolong baru dalam sebuah organisasi maupun perusahaan, dimana pada saat tersebut anda masih dalam masa orientasi dan adaptasi, sebuah sematan bodohpun ketika anda tidak dapat dengan maksimal menyelesaikan pekerjaan harus anda terima dengan lapang hati. namun kita pun berharap bahwa sematan kata bodoh tadi hanyalah sebatas persepsi dan bukanlah paradigma, apakah akan selalu nila yang setitik akan merusak susu yang sebelangga, mungkin ketika anda mendapat 10 tugas dan kesembilan tugas tersebut dapat anda selesaikan dengan relatif baik namun pada tugas yang kesepuluh anda mendapat beberapa faktor sehingga pekerjaan anda kurang maksimal hasilnya lalu anda mendapat sematan bodoh untuk selamanya. bukankah kita saat ini diwajibkan untuk terus belajar agar terhindar dari kebodohan.adalah sebuah kepercayaan dari seorang atasan berupa teguran dan pemberian solusi atau memberi tahu kesalahn kita tersebut yang kita harapkan untuk dapat memperbaiki diri, belajar dan belajar. semua dari kita pasti berharap untuk dapat dipercaya yang terealisasi dalam berbagai tanggung jawab. bukankah sebuah kepercayaan dalam tanggung jawab adalah sarana anda untuk mengeksistensikan diri anda dalam lingkungan organisasi ataupun pekerjaan.semua dari kita pasti punya motivasi untuk mengggapai harapan dan cita-cita dan ketika itu anda akan mengerahkan segenap daya upaya dan usaha anda untuk menggapainya, dan sebuah keyakinan dan kepercayaan adalah bahan bakarnya.NB. catatan ini hanya bermaksud untuk saling memotivasi diantara kita, maaf jika di dalamnya menyinggung pihak atau personal tidak ada maksud dari kami untuk itu.semoga memberi manfaat dan dapat membakar semangat anda ketika mungkin saat ini banyak masalah yang menerpa hari-hari andabukankah cercaan, hinaan, teguran, masalah, rintangan dan tantangan adalah vitamin bagi kiota untuk selalu belajar memperbaiki diri untuk memantaskan diri tampil lebih baik.Salam Semangat......

[+/-] Selengkapnya...